SEMANGAT MENGEJAR IMPIAN

SEMANGAT MENGEJAR IMPIAN
BELAJAR MANAJEMEN

Hasil karya kiki mey

Selasa, 30 November 2010

TUGAS 3 .MODEL STP (segmenting, targeting, and positioning).

Nama : kiki mey santamariana
Kelas : 3ea06
Npm :11208525
Study : perilaku konsumen




MODEL STP (segmenting, targeting, and positioning).




Kita mengenal marketing pertama kali dengan istilah STP (segmenting, targeting, and positioning).
STP dalam pelaksanaannya tidaklah mudah. SULIT sekali.
Segmenting saja sudah ribet. Berdasarkan demografi, psikografi, behavior?
Targeting dan positioning juga bukannya mudah. Wong customers adalah pribadi yang unik. Behavior-nya berubah-ubah dan diubah-ubah oleh brand.
Akarnya memang dari penentuan segmenting dan profiling suatu masyarakat yg sedemikian kompleksnya.

- Mau dibuat berdasarkan demografi? yg mana basisnya? living atau working place? living di Serpong, working place di Pulo Gadung.
- Umur? kita kan suka sekat-sekat umur tuh kalo buat riset. Skrg apa bedanya remaja 17 thn dengan remaja 15 thn? Bisa dijamin sama perilaku-nya? Gimana dengan etnis? Lah wong sekarang banyak yg ude kawin campur? Belom lagi yg sudah terpengaruh budaya asing dari lingkungan sekitarnya.

- Skrg mo berdasarkan behavior deh. Nah, lebih ruwet lagi. Wong waktu saya lagi bad mood dengan pas lagi senang ga sama kok perilaku saya. Sy bisa easy going pas lagi senang, tapi buset “reseh”nya pada saat lagi “bad mood”. Sy bisa beli barang “x” tanpa liat harga kalo lagi terburu2, sementara di lain waktu mikir 2x.
Sekarang ini adalah community semakin kuat pengaruhnya, walaupun sebetulnya ini bukan isu baru.

Sejak lahir manusia memang makhluk sosial. Artinya apa? Ya punya komunitas! Contohnya saja saya. Saya punya komunitas sendiri. Temen-temen gaul saya. Temen-temen partner bisnis. Keberadaan saya mempengaruhi mereka dan keberadaan setiap individu dalam komunitas saya juga mempengaruhi saya. Katakan saja ini adalah Informal Social Community yang sifatnya masih tertutup dalam lingkungan sendiri.
Saya punya komunitas marketing club. Bersama marketing-club, kita belajar bersama dan tidak jarang kita memberikan masukan kepada banyak. Hahaha…walaupun belum sih jadi momok atau gudang kritik bagi para marketers. Sudah jadi Formal Community nih yg pengaruhnya mulai meluas kemana2.

Sebuah brand pun punya pengguna yang pastinya punya komunitas lho!Komunitas berdasarkan demografi dan komunitas berdasarkan gaya hidup dan perilaku/hobi tertentu.
Contohnya saja, sebuah produk bernama kartu layanan Halo Corporat…Bisa dibagi berdasarkan komunitas berdasarkan industri yang tentunya punya karakteristik pelanggan yang hampir sama, komunitas berdasarkan lokasi, komunitas berdasarkan profesi, komunitas berdasarkan hobi tertentu, dsbnya.

Contoh lagi,
sebuah pengguna Oreo, bisa dibagi berdasarkan komunitas anak-anak penggemar basket, anak-anak penggemar sepak bola, anak-anak doyan game, anak-anak nerd, dsbnya.
Contoh lagi, sebuah brand bernama TimeZone di cabang Kelapa Gading, bisa dibagi berdasarkan komunitas anak-anak doyan game individual seperti playstation, sony, dsbnya atau anak-anak doyan game komunitas seperti Ragnarok.
Waduh, apa artinya ini Benar!

Teori marketing sedang berevolusi berbasis sesuatu yang lebih jelas, dan bukan kompleks seperti sebuah masyarakat umum. Teori STP mulai bergerak dengan basis COMMUNITY.

Maksudnya adalah: dipilih dulu COMMUNITY-nya, baru kemudian dilakukan STP analysis. Lebih mudah ketimbang menggunakan society atau SES ABC yg biasa kita lakukan. Kenapa? karena biasanya COMMUNITY punya kesamaan tertentu. Misalnya ya, COMMUNITY Golf ya artinya dari SES A.
Walaupun memang tidak semua sama ya, tapi at least ada karakteristik yg sama. Bisa juga tempat misalnya SLANKERS wilayah Bandung. Bisa juga umur misalnya Club Basket. Contoh COMMUNITY activities paling afdol adalah dengan melihat “DJARUM BLACK”

sumber:
http://www.google.com/
http://www.bloger.com/
pemikiran sdiri

Tugas 2 Variabel Utama Dalam Segmentasi Pasar

Nama : kiki mey santamariana
Kelas : 3ea06
Npm :11208525
Study : perilaku konsumen


Variabel utama dalam segmentasi pasar


Segmentasi pasar dan keanekaragaman pasar merupakan dua konsep yang saling mengisi. Tanpa pasar yang beranekaragam yang terdiri dari berbagai macam orang dengan latar belakang, negara asal, kepentingan, kebutuhan, dan keinginan yang berbeda, hanya sedikit alasan untuk mengadakan segmentasi pasar.Sebelum diterimanya konsep pemasaran secara luas cara yang umum untuk melakukan bisnis dengan konsumen adalah melalui pemasaran masal, yaitu penawaran produk atau bauran pemasaran yang sama kepada setiap orang. Segmentasi pasar menyusul sebagai cara yang lebih logis untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
DEFINISI SEGMENTASI PASARSegmentasi pasar dapat didefinisikan sebagai proses membagi pasar menjadi irisan-irisan konsumen yang khas yang mempunyai kebutuhan atau sifat yang sama dan kemudian memilih satu atau lebih segmen yang akan dijadikan sasaran bauran pemasaran yang berbeda.Segmentasi pasar merupakan langkah pertama dalam strategi pemasaran tiga tahap. Strategi pemasaran tiga tahap yaitu:
- Membagi pasar ke dalam kelompok-kelompok yang homogen.
- Memilih satu segmen atau lebih yang dijadikan target. Pemasar harus mengambil keputusan atas dasar bauran pemasaran yang khusus yaitu produk, harga, saluran, dan/atau daya tarik promosi khusus untuk setiap segmen yang berbeda.
- Menentukan product positioning (posisi produk) sehingga dirasakan oleh para konsumen di setiap segmen yang dibidik sebagai produk yang memberikan kepuasan lebih baik daripada berbagai penawaran bersaing lainnya.
Segmentasi pasar banyak digunakan oleh para pelaku bisnis, diantaranya:
- Para pemasar, karena strategi segmentasi pasar menguntungkan kedua belah pihak di pasar, para pemasar barabg-barang konsumen menjadi bergairah untuk melaksanakannya.
- Para pengecer, contohnya The Gap membidik berbagai segmen umur, pendapatan, dan gaya hidup di berbagai toko eceran yang berbeda.
Hotel-hotel, membagi pasar mereka dan menargetkan jaringan hotel yang berbeda ke segmen pasar yang berbeda.
Perusahaan manufaktur industry, membagi pasar-pasar mereka, seperti yang dilakukan organisasi nirlaba dan media.
Badan-badan amal, seperti Palang Merah memfokuskan usaha-usaha pengumpulan dana pada “para penyumbang besar”.
Beberapa Pusat Seni Drama, Musik, dan Seni Tari, membagi para pelanggan atas dasar pencarian manfaat dan telah berhasil meningkatkan pengunjung melalui daya tarik promosi khusus.
Bagaimana segmentasi pasar beroperasi?Studi segmentasi pasar direncanakan untuk mengetahui kebutuhan dan keinginan berbagai kelompok spesifik, sehingga barang dan jasa khusus dapat dikembangkan dan ditingkatkan untuk memuaskan kebutuhan setiap kelompok.Studi segmentasi juga digunakan untuk menuntun perancangan ulang atau pengaturan ulang posisi produk tertentu atau penambahan segmen baru. Riset segmentasi digunakan oleh para pemasar , berbagai stasiun TV dan radio sampai surat kabar dan majalah untuk:
Menutup kesenjangan produk,
Mengenali media yang paling cocok untuk menempatkan iklan,
Menentukan karakteristik pemirsa dan pendengar serta mengumumkan temuan-temuan untuk menarik para pemasang iklan yang mencari pendengar yang serupa.

DASAR SEGMENTASI PASARDalam menyusun strategi segmentasi, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memilih dasar yang paling tepat untuk membagi pasar. Sembilan kategori utama karakteristik konsumen yang menjadi dasar untuk melakukan segmentasi adalah:
1. Segmentasi GeografisPada segmentasi geografis, pasar dibagi menurut tempat. Teori dalam strategi ini adalah bahwa orang yang tinggal di daerah yang sama memiliki kebutuhan dan keinginan yang serupa, dan bahwa kebutuhan dan keinginan ini berbeda dari kebutuhan dan keinginan orang-orang yang tinggal di daerah-daerah lain. Sebagai contoh, penjualan produk makanan tertentu dan/atau bermacam-macam makanan lebih baik di satu daerah daripada di berbagai daerah lain. Misalnya, nasi gudeg penjualan paling baik di Yogyakarta, sate ayam penjualan paling baik di Madura, buah apel penjualan paling baik di Malang, dll.Segmentasi geografis merupakan strategi yang berguna bagi banyak pelaku pemasaran. Menemukan berbagai perbedaan berdasarkan geografis relative mudah untuk berbagai produk. Di samping itu, segmen-segmen geografis dapat dicapai dengan mudah melalui media local, yang mencakup surat kabar, TV, radio, dan majalah.
2. Segmentasi DemografisKarakteristik demografis yang paling sering digunakan sebagai dasar untuk segmentasi pasar antara lain:
Usia,
Gender (jenis kelamin),
Status perkawinan,
Pendapatan, pendidikan, dan pekerjaan, dsb.
Demografis membantu menemukan pasar target atau sasaran. Informasi demografis merupakan cara yang paling efektif dari segi biaya dan paling mudah diperoleh untuk mengenali target. Data-data demografis lebih mudah diukur daripada berbagai variabel segmentasi lain. Berbagai variabel denografis mengungkapkan kecenderungan yang memberikan isyarat berbagai peluang bisnis, seperti pergeseran usia, jenis kelamin, dan distribusi penghasilan.
3. Segmentasi PsikologisKarakteristik psikologis merujuk ke sifat-sifat diri atau hakiki konsumen perorangan. Strategi segmentasi konsumen sering didasarkan pada berbagai variabel psikologis khusus. Misalnya, para konsumen dapat dibagi menurut motivasi, kepribadian, persepsi, pengetahuan, dan sikap.
4. Segmentasi PsikografisBentuk riset konsumen terapan ini biasa disebut analisis gaya hidup. Profil psikografis salah satu segmen konsumen dapat dianggap sebagai gabungan berbagai kegiatan (activities), minat (interests), dan pendapat (opinions) (AIO) konsumen yang dapat diukur. Dalam bentuk yang paling umum, studi psikografis AIO menggunakan serangkaian pernyataan (daftar pernyataan psikografis) yang dirancang untuk mengenali berbagai aspek yang relevan mengenai kepribadian, motif membeli, minat, sikap, kepercayaan, dan nilai-nilai konsumen.
5. Segmentasi Sosial BudayaBerbagai variabel sosiologis (kelompok) dan antropologis (budaya) yaitu variabel sosial budaya menjadi dasar-dasar lebih lanjut bagi segmentasi pasar. Sebagai contoh, berbagai pasar konsumen telah berhasil dibagi lagi menjadi berbagai segmen berdasarkan tahap dalam siklus kehidupan keluarga, kelas sosial, nilai-nilai budaya inti, keanggotaan subbudaya, dan keanggotaan lintas budaya.
6. Segmentasi Terkait PemakaianBentuk segmentasi ini sangat popular dan efektif dalam menggolongkan konsumen menurut karakteristik produk, jasa, atau pemakaian merek, seperti tingkat pemakaian, tingkat kesadaran, dan tingkat kesetiaan terhadap merek. Segmentasi tingkat pemakaian membedakan antara pemakai berat, pemakai menengah, pemakai ringan, dan bukan pemakai produk, jasa, atau merek khusus.
7. Segmentasi Situasi PemakaianPara pemasar memfokuskan pada situasi pemakaian sebagai variabel segmentasi disebabkan oleh kesempatan atau situasi sering menentukan apa yang akan dibeli atau dikonsumsi para konsumen.
8. Segmentasi ManfaatBerubahnya gaya hidup memainkan peran utama dalam menentukan manfaat produk yang penting bagi konsumen, dan memberikan peluang bagi pemasar untuk memperkenalkan produk dan jasa baru. Segmentasi manfaat dapat digunakan untuk mengatur posisi berbagai merek ke dalam golongan produk yang sama.
9. Segmentasi GabunganTiga pendekatan segmentasi gabungan (hybrid segmentation approach) adalah:
Profil Psikografis-Demografis
Profil psikografis dan demografis merupakan pendekatan yang saling melengkapi yang akan memberikan hasil maksimal jika digunakan bersama.

10. Segmentasi Geodemografis
Jenis segmentasi gabungan ini didasarkan pada pendapat bahwa orang yang hidup dekat dengan satu sama lain mungkin mempunyai keuangan, selera, pilihan, gaya hidup, dan kebiasaan konsumsi yang sama.
VALS 2
System VALS secara lebih tegas memfokuskan pada usaha menjelaskan perilaku membeli konsumen.KRITERIA UNTUK MEMBIDIK SEGMEN PASAR SECARA EFEKTIFUntuk menjadi target yang efektif, maka segmen pasar tertentu haruslah:
Dapat diidentifikasi,
Mencukupi (dari sudut ukuran),
MELAKSANAKAN STRATEGI SEGMENTASI Strategi Pemasaran yang Berbeda (Differential Marketing) adalah menentukan target beberapa segmen dengan menggunakan bauran pemasaran individual.Strategi Pemasaran
Stabil atau bertumbuh,
Dapat dimasuki (dapat dijangkau) dari sudut media maupun biaya.

Terpusat (Concentrated Marketing) adalah menentukan target hanya satu segmen dengan satu bauran pemasaran unik.Kontrasegmentasi adalah usaha untuk mengetahui kebutuhan yang lebih umum dan karakteristik konsumen yang akan diterapkan kepada anggota dua segmen atau lebih, dan menggabungkan kembali segmen-segmen itu ke dalam satu segmen yang lebih luas.
Daftar Pustaka:Schiffman, L.G., & Kanuk, L.L. 2007. Consumer Behaviour, 9th ed. New Jersey, Pearson Prentice Hall.

Minggu, 21 November 2010

TUGAS 1,SYARAT SYARAT DALAM SEGMENTASI PASAR YANG EFEKTIF

NAMA : KIKI MEY .S

KELAS : 3 EAO6

NPM : 11208525

STUDY :PERILAKU KOMSUMEN



Syarat-syarat segmentasi yang efektif


Segmentasi pasar adalah membagi pasar ke dalam kelompok pasar individu dengan keinginan atau kebutuhan yang sama bahwa sebuah perusahaan membagi pasar menjadi kelompok yang berbeda yang memiliki kebuyuhan berbeda, keinginan, perilaku atau yang mungkin ingin produk yang berbeda & jasa.
Segmentasi pasar adalah sebuah metode bagaimana memandang pasar secara kreatif. Kita perlu seca ra kreatif mengidentifikasi dan memanfaatkan peluang yang muncul di pasar (Hermawan Kertajay.
a). Segmentasi pasar sangatlah penting di dalam bisnis dan pemasaran.
Walaupun kita tidak boleh mengiris-iris pasar terlalu kecil, segmentasi pasar tetaplah suatu hal yang harus dipelajari dalam membangun usaha. Peranan segmentasi dalam marketing :
- Memungkinkan kita untuk lebih fokus masuk ke pasar sesuai keunggulan kompetitif perusahaan kita.
- Mendapatkan input mengenai peta kompetisi dan posisi kita di pasar.
- Merupakan basis bagi kita untuk mempersiapkan strategi marketing kita selanjutnya.
- Faktor kunci mengalahkan pesaing dengan memandang pasar dari sudut unik dan cara yang berbeda.

Untuk bisa memberi manfaat, segmen pasar harus mempunyai karakteristik berikut ini menurut Kotler, Bowen dan Makens (2002, p.265):a) Dapat diukur ( measurable )Sejauh mana ukuran dan daya beli segmen dapat diukur. Variabel segmentasi tertentu sulit diukur, seperti ukuran segmen remaja peminum minuman keras, terutama yang alasannya karena berontak kepada orang tu


b) Dapat diakses ( accessable )Sejauh mana segmen itu dapat diakses dan dilayani secara efektif.

c) Cukup besar ( substantial )Sejauh mana segmen itu cukup besar atau cukup menguntungkan untuk dilayani sebagai pasar.
Sebuah segmen sebaiknya merupakan kelompok homogen yang secara ekonomi paling layak mendukung program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan segmen itu. Sebagai contoh, area metropolitan besar dapat mendukung beragam restoran etnis. Sebaliknya di kota kecil, restoran etnis tidak mungkin dapat bertahan.

d) Dapat dibedakan ( differentiable)Sejauh mana segmen-segmen secara konseptual dapat dipisah-pisahkan dan memberikan tanggapan yang berbeda terhadap unsur dan program bauran pemasaran yang berbeda. Jika wanita yang telah menikah dan belum menikah memberikan tanggapan yang sama atas penjualan parfum, berarti diantaranya bukanlah segmen yang terpisah.

e) Dapat dilaksanakan ( actionable )Sejauh mana program yang efektif dapat didisain untuk menarik melayani segmen – segmen tersebut.
Evaluasi Segmentasi PasarPada saat mengevaluasi pasar, perusahaan harus memperhatikan tiga faktor (Kotler, Bowen dan Makens, 2002, pp.265-267), yaitu :1) Ukuran dan pertumbuhan pasar.Perusahaan akan menganalisa ukuran dan pertumbuhan segmen, kemudian memilih segmen yang memberikan peluang terbaik.
Pertama-tama perusahaan harus mengumpulkan dan menganalisa data terakhir penjualan segmen saat ini, tingkat pertumbuhan, dan laba yang diharapkan dari berbagai segmen. Perusahaan akan menaruh minat pada segmen yang memiliki karakteristik ukuran dan pertumbuhan yang tepat, namun hal ini bersifat relatif.

2) Daya tarik struktur segmen.Perusahaan harus meneliti sejumlah faktor struktural utama yang mempengaruhi data tarik segmen dalam jangka panjang. Sebagai contoh, daya tarik segmen berkurang bila segmen itu telah memiliki banyak pesaing yang kuat dan agresif. Keberadaan banyak produk pengganti yang nyata atau yang potensial bisa membatasi harga dan keuntungan yang dapat diambil dari suatu segmen.
Kekuatan relatif pembeli juga mempengaruhi daya tarik segmen, jika pembeli dalam sebuah segmen mempunyai kekuatan menawar yang relatif kuat terhadap penjual, maka akan mendesak harga untuk turun, menuntut kualitas dan layanan yang lebih, dan mengadu perusahaan satu dengan yang lain.
Semuanya itu terjadi dengan mengorbankan keuntungan yang dapat diperoleh penjual.3) Tujuan dan sumber daya perusahaan.
Sekalipun sebuah segmen memiliki ukuran dan pertumbuhan yang tepat serta secara struktural menarik, perusahaan-perusahaan harus mempertimbangkan tujuan dan sumber dayanya sendiri dalam hubungannya dengan suatu segmen.

TUGAS 1,SYARAT SYARAT DALAM SEGMENTASI PASAR YANG EFEKTIF

Jumat, 29 Oktober 2010

TUGAS 4.Pendekatan untuk mempengaruhi Perilaku Konsumen

NAMA KIKI MEY SANTAMARIANA
KELAS 3 EA06
NPM 11208525
STUDY PERILAKU KONSUMEN




TEKNIK PENDEKATAN UNTUK MEMPENGARUHI KEPUTUSAN KONSUMEN



II. Teknik Pendekatan Stimulus Respon

Menurut saya teknik pendekatan stimulus respon dalam mempengaruhi konsumen ialah bagaimana cara pelayanan yang diberikan kepada konsumen agar menarik suatu pelanggan.
Dan bagaimana cara kita memasarkan produk kepada konsumen agar meluas.
teknik ini merupakan teknik penyampaian ide-ide atau pengetahuan tentang suatu produk dan merek Kepada konsumen agar konsumen tertarik atau termotivasi untuk mengambil keputusan membeli produk-produk yang disampaikan itu. Dengan kata lain, pemilik toko atau pramuniaga memberikan stimulus berupa produk-produk yang ada dalam toko, kemudian diharapkan konsumen dapat meresponnya secara positif. Misalnya seorang ibu menanyakan. pakaian untuk bayi, maka pramuniaga memberikan informasi tentang merek, kualitas, dan warna berbagai macam pakaian bayi. Kemudian konsumen diarahkan untuk membeli di antara alternatif yang cenderung mendapat perhatian atau tanggapan positif dari ibu tersebut. Dengan demikian si ibu akan lebih mudah mengambil keputusan.
II. Teknik Pendekatan Humanistik
menurut saya teknik tersebut merupakan teknik bersama dimana keputusan ada ditangan konsumen ,mereka bebas .contohnya :menawar harga,mengganti produck dengan yang baru apabila ada kerusakan pada produk tersebut.
Teknik ini merupakan teknik pendekatan yang bersifat manusiawi. Dalam teknik ini keputusan membeli sepenuhnya diserahkan kepada konsumen yang bersangkutan. Pemilik toko atau pramuniaga hanya lebih bersifat menyediakan berbagai jenis produk, merek, warna, kualitas, dan memberikan informasi tentang manfaat, kebaikan dan kelemahan yang terdapat pada masing-masing produk yang tersedia.
III. Teknik Pendekatan Kombinasi antara Stimulus-Respon dan Humanistik.
Teknik ini merupakan teknik pendekatan dari hasil kombinasi antara teknik stimulus-respon dan teknik humanistik, pemilik toko atau pramuniaga dalam menghadapi konsumen lebih bersifat mengkondisikan perilaku yang memungkinkan konsumen terimotivasi untuk membeli, namun keputusan membelinya diserahkan kepada konsumen.
Misalnya baring;-haring; (IiSLISUII dengan berbagai bentuk yang menarik konsumen, display baring disusuii teratur yang memungkinkan menjadi pusat perhatian koiiRlmoti, produk ditampilkan dengan berbagai merek yang menarik.IV. Teknik Pendekatan Dengan Komunikasi yang PersuasifTekok ini merupakan teknik pendekatan dengan. menggunakan komunikasi persuasif .

IV. TEKNIK MENJUAL PERSUASIF.
Teknik presentasi yang jelas, ringkas dan persuasif; Mampu menentukan pilihan suara, cara artikulasi, bahasa tubuh, kontak mata dan gerak gerik tubuh. Hubungan Teknik Komunikasi Persuasif Bidan Kepada Pasien.dan dosen kepada mahasiswa.dlln.
SUMBER :
HASIL PEMIKIRAN SAYA KIKI MEY.

TUGAS 3 faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen

NAMA : KIKI MEY SANTAMARIANA.S.
KELAS : 3EA06
NPM : 11208525
STUDY : PERILAKU KONSUMEN


FAKTOR SOSIAL




I. Faktor Sosial.


GroupSikap dan perilaku seseorang dipengaruhi oleh banyak grup-grup kecil. Kelompok dimana orang tersebut berada yang mempunyai pengaruh langsung disebut membership group. Membership group terdiri dari dua, meliputi primary groups (keluarga, teman, tetangga, dan rekan kerja) dan secondary groups yang lebih formal dan memiliki interaksi rutin yang sedikit (kelompok keagamaan, perkumpulan profesional dan serikat dagang). (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp. 203-204).b. Family InfluenceKeluarga memberikan pengaruh yang besar dalam perilaku pembelian. Para pelaku pasar telah memeriksa peran dan pengaruh suami, istri, dan anak dalam pembelian produk dan servis yang berbeda. Anak-anak sebagai contoh, memberikan pengaruh yang besar dalam keputusan yang melibatkan restoran fast food. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.204).c. Roles and StatusSeseorang memiliki beberapa kelompok seperti keluarga, perkumpulan-perkumpulan, organisasi. Sebuah role terdiri dari aktivitas yang diharapkan pada seseorang untuk dilakukan sesuai dengan orang-orang di sekitarnya. Tiap peran membawa sebuah status yang merefleksikan penghargaan umum yang diberikan oleh masyarakat (Kotler, Amstrong, 2006, p.135).


II. Faktor Personala. Economic SituationKeadaan ekonomi


seseorang akan mempengaruhi pilihan produk, contohnya rolex diposisikan konsumen kelas atas sedangkan timex dimaksudkan untuk konsumen menengah. Situasi ekonomi seseorang amat sangat mempengaruhi pemilihan produk dan keputusan pembelian pada suatu produk tertentu (Kotler, Amstrong, 2006, p.137).b. LifestylePola kehidupan seseorang yang diekspresikan dalam aktivitas, ketertarikan, dan opini orang tersebut. Orang-orang yang datang dari kebudayaan, kelas sosial, dan pekerjaan yang sama mungkin saja mempunyai gaya hidup yang berbeda (Kotler, Amstrong, 2006, p.138)c. Personality and Self ConceptPersonality adalah karakteristik unik dari psikologi yang memimpin kepada kestabilan dan respon terus menerus terhadap lingkungan orang itu sendiri, contohnya orang yang percaya diri, dominan, suka bersosialisasi, otonomi, defensif, mudah beradaptasi, agresif (Kotler, Amstrong, 2006, p.140). Tiap orang memiliki gambaran diri yang kompleks, dan perilaku seseorang cenderung konsisten dengan konsep diri tersebut (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.212).d. Age and Life Cycle StageOrang-orang merubah barang dan jasa yang dibeli seiring dengan siklus kehidupannya. Rasa makanan, baju-baju, perabot, dan rekreasi seringkali berhubungan dengan umur, membeli juga dibentuk oleh family life cycle. Faktor-faktor penting yang berhubungan dengan umur sering diperhatikan oleh para pelaku pasar. Ini mungkin dikarenakan oleh perbedaan yang besar dalam umur antara orang-orang yang menentukan strategi marketing dan orang-orang yang membeli produk atau servis. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp.205-206)e. OccupationPekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang dibeli. Contohnya, pekerja konstruksi sering membeli makan siang dari catering yang datang ke tempat kerja. Bisnis eksekutif, membeli makan siang dari full service restoran, sedangkan pekerja kantor membawa makan siangnya dari rumah atau membeli dari restoran cepat saji terdekat (Kotler, Bowen,Makens, 2003, p. 207).


III. Faktor Psychologicala.


MotivationKebutuhan yang mendesak untuk mengarahkan seseorang untuk mencari kepuasan dari kebutuhan. Berdasarkan teori Maslow, seseorang dikendalikan oleh suatu kebutuhan pada suatu waktu. Kebutuhan manusia diatur menurut sebuah hierarki, dari yang paling mendesak sampai paling tidak mendesak (kebutuhan psikologikal, keamanan, sosial, harga diri, pengaktualisasian diri). Ketika kebutuhan yang paling mendesak itu sudah terpuaskan, kebutuhan tersebut berhenti menjadi motivator, dan orang tersebut akan kemudian mencoba untuk memuaskan kebutuhan paling penting berikutnya (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.214).b. PerceptionPersepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengorganisasi, dan menerjemahkan informasi untuk membentuk sebuah gambaran yang berarti dari dunia. Orang dapat membentuk berbagai macam persepsi yang berbeda dari rangsangan yang sama (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.215).c. LearningPembelajaran adalah suatu proses, yang selalu berkembang dan berubah sebagai hasil dari informasi terbaru yang diterima (mungkin didapatkan dari membaca, diskusi, observasi, berpikir) atau dari pengalaman sesungguhnya, baik informasi terbaru yang diterima maupun pengalaman pribadi bertindak sebagai feedback bagi individu dan menyediakan dasar bagi perilaku masa depan dalam situasi yang sama (Schiffman, Kanuk, 2004, p.207).d. Beliefs and AttitudeBeliefs adalah pemikiran deskriptif bahwa seseorang mempercayai sesuatu. Beliefs dapat didasarkan pada pengetahuan asli, opini, dan iman (Kotler, Amstrong, 2006, p.144). Sedangkan attitudes adalah evaluasi, perasaan suka atau tidak suka, dan kecenderungan yang relatif konsisten dari seseorang pada sebuah obyek atau ide (Kotler, Amstrong, 2006, p.145).



VI. Faktor CulturalNilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari .

seseorang melalui keluarga dan lembaga penting lainnya (Kotler, Amstrong, 2006, p.129). Penentu paling dasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Culture, mengkompromikan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan, dan perilaku yang dipelajari seseorang secara terus-menerus dalam sebuah lingkungan. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, pp.201-202).a. SubcultureSekelompok orang yang berbagi sistem nilai berdasarkan persamaan pengalaman hidup dan keadaan, seperti kebangsaan, agama, dan daerah (Kotler, Amstrong, 2006, p.130). Meskipun konsumen pada negara yang berbeda mempunyai suatu kesamaan, nilai, sikap, dan perilakunya seringkali berbeda secara dramatis. (Kotler, Bowen, Makens, 2003, p.202).b. Social ClassPengelompokkan individu berdasarkan kesamaan nilai, minat, dan perilaku. Kelompok sosial tidak hanya ditentukan oleh satu faktor saja misalnya pendapatan, tetapi ditentukan juga oleh pekerjaan, pendidikan, kekayaan, dan lainnya (Kotler, Amstrong, 2006, p.132).V. Keputusan PembelianKeputusan pembelian menurut Schiffman, Kanuk (2004, p.547) adalah pemilihan dari dua atau lebih alternatif pilihan keputusan pembelian, artinya bahwa seseorang dapat membuat keputusan, haruslah tersedia beberapa alternatif pilihan. Keputusan untuk membeli dapat mengarah kepada bagaimana proses dalam pengambilan keputusan tersebut itu dilakukan. Bentuk proses pengambilan keputusan tersebut dapat digolongkan sebagai berikut:1. Fully Planned Purchase, baik produk dan merek sudah dipilih sebelumnya. Biasanya terjadi ketika keterlibatan dengan produk tinggi (barang otomotif) namun bisa juga terjadi dengan keterlibatan pembelian yang rendah (kebutuhan rumah tangga).
Planned purchase dapat dialihkan dengan taktik marketing misalnya pengurangan harga, kupon, atau aktivitas promosi lainnya.2. Partially Planned Purchase, bermaksud untuk membeli produk yang sudah ada tetapi pemilihan merek ditunda sampai saat pembelajaran. Keputusan akhir dapat dipengaruhi oleh discount harga, atau display produk3. Unplanned Purchase, baik produk dan merek dipilih di tempat pembelian. Konsumen sering memanfaatkan katalog dan produk pajangan sebagai pengganti daftar belanja. Dengan kata lain, sebuah pajangan dapat mengingatkan sesorang akan kebutuhan dan memicu pembelia.

Tugas 2.informasi penting tentang perilaku konsumen

NAMA : KIKI MEY .S.
KELAS :3EA06
NPM :11208525
STUDI : PERILAKU KONSUMEN



Berbagai Fakta Tentang Berperilaku Berbelanja


Saat ini, perkembangan pusat perbelanjaan di Indonesia semakin meningkat tajam. Hal ini bisa menjadi salah satu indikator daya beli masyarakat Indonesia yang cenderung meningkat perlahan namun pasti. Mungkin di antara kita pun merasakan bahwa tempat belanja di Indonesia mengalami pertumbuhan dan pergeseran. Kalau kita cermati, konsumen Indonesia cenderung lebih menyukai berbelanja di modern outlet dibandingkan traditional outlet. Terbukti dengan ekspansi minimarket modern sepeti Alfamart dan Indomart yang begitu aggresive.




I.GAYA BELANJA ,PERBEDAAN ORANG YANG EKONOMINYA MEMADAI DAN YANG EKONOMINYA LEMAH .



Ekonomi yang memadai :
- mereka lebih sering berbelanja di mall dan supermarket
- ketika membayar belanjaan mereka menggunakan ATM atau credit cart.
- Kebiasan mereka berbelanja tidak pada tujuan yang ingin di beli.,
- Berbelanja selalu mencari mutu dan kualitas serta harga mahal.

Ekonominya yang lemah :

-Beda dengan kondisi ekonominya yang lemah ketika berbelanja pada suatu tempat mereka lebih mencari kebutuhan mereka .
-Dan ketika berbelanja mereka akan mencari harga yang sesuai dengan kondisi keuangan mereka.
-Mereka lebih sering berbelanja di pasar tradisional.

II. Cara berbelanja pria :

Berbicara tentang gaya belanja dan pusat perbelanjaan, saya ingin mencoba berdiskusi tentang perilaku belanja pria single dan telah menikah. , kedua kategori ini memiliki perbedaan dalam perilaku belanja dan pemilihan shopping outlet. Selain itu, perkembangan pusat belanja modern pun telah menciptakan persepsi tersendiri tentang belanja di kalangan pria. Semoga tulisan sederhana yang saya buat ini bisa dijadikan informasi tambahan dan topik diskusi untuk kita semua.
Pada dasarnya konsumen berbelanja untuk mendapatkan manfaat yang bersifat emotional dan functional. Dari sisi emosional, konsumen berbelanja untuk mendapatkan hiburan/refreshing, cara/kegiatan bersantai, kesempatan untuk mendapatkan informasi/hal baru, bersosialisasi dengan teman, dan menghabiskan waktu dengan teman atau keluarga. Sedangkan dari sisi fungsional, belanja dilakukan untuk mendapatkan barang yang diinginkan dan dibutuhkan, mendapatkan harga dan barang terbaik.
Mungkin dulu aktivitas berbelanja lebih cenderung menjadi kegiatan wanita. Namun saat ini banyak pria menilai bahwa berbelanja dianggap sebagai salah satu tugas dari pria. Namun pria single dan yang telah menikah memiliki persepsi serta perilaku yang tentu berbeda meskipun keduanya tetap memiliki persamaan mendasar ketika berbelanja seperti pria akan lebih cenderung untuk loyal kepada brand yang sebelumnya telah digunakan dibandingkan wanita.
Secara umum pria memiliki urutan tertentu ketika berbelanja. Sebagian besar pria akan mengunjungi bagian elektronik pertama kali, kedua bagian kebutuhan pokok, ketiga makanan ringan dan minuman, keempat kategori toiletries, kelima fresh foods, dan terakhir adalah food court.
Pria single menganggap kegiatan belanja adalah entertaining and socializing activities sedangkan pria yang telah menikah menilai belanja sebagai media untuk mendapatkan waktu berkualitas bersama keluarga. Pria yang telah menikah akan lebih mengedepankan kebutuhan keluarga dibandingkan diri sendiri ketika berbelanja dan akan lebih mengontrol setiap pengeluaran.
Disamping itu, loyalty program pun akan mendapatkan feedback yang berbeda dari pria single dan yang telah menikah. Pria single tidak merasakan keuntungan lebih dari adanya loyalty program dan sebaliknya untuk pria yang telah menikah. Pria yang telah menikah menilai loyalty program akan memberikan manfaat besar untuk mendapatkan diskon dan special offer. Ketertarikan terhadap loyalty program pun dipengaruhi oleh besarnya anggaran untuk berbelanja.
Konsumen pria pun menentukan channel belanja disesuai dengan tujuan berbelanja. Minimarket akan cenderung dipilih jika hanya berbelanja dalam jumlah yang besar. Hypermarket dipilih jika akan berbelanja dalam jumlah kapasitas besar misalkan belanja bulanan. Dan supermarket dipilih oleh konsumen jika selain berbelanja, mereka pun ingin memenuhi kebutuhan bersosialisasi.
Selain itu, citra outlet pun akan mempengaruhi keputusan berbelanja. Berdasarkan survey Nielsen, Giant dan Carrefour lebih banyak dikunjungi oleh konsumen pria dibandingkan Hero dan supermarket yang lainnya. Hero dinilai sebagai supermarket yang cenderung lebih ”wanita”, dinilai sebagai high class supermarket karena memiliki product range yang dilengkapi oleh imported brand ternama, dan biasanya berada di kawasan berbelanja seperti mall.
Giant dipersepsikan sebagai supermarket yang sering memberikan diskon dan dilengkapi oleh free parking; food court; play ground. Dikategorikan sebagai supermarket yang memiliki harga murah sesuai dengan tag line Giant yaitu Lebih Murah dan Hemat. Terakhir adalah Carrefour yang merupakan salah satu hypermarket yang memiliki pertumbuhan luar biasa di Indonesia. Dari segi pelayanan, Carrefour dinilai sangat baik untuk program customer loyalty serta memberikan fasilitas tambahan seperti
Sebagai kesimpulan bahwa pesatnya pertumbuhan pusat belanja di Indonesia ternyata diiringi dengan perubahan perilaku konsumen pria ketika berbelanja dan memilih tempat belanja. Hal ini membuat manajemen pusat perbelanjaan untuk lebih sensitive melihat perubahan perilaku konsumennya untuk tetap bertahan di era persaingan yang semakin kompetitif.
Pernahkah kita bertanya-tanya mengapa kita lebih menyukai cokelat daripada vanili, film aksi daripada film drama atau musik rock daripada jazz? Alasannya mungkin telah muncul jauh sebelum kita lahir dan telah tumbuh kembang dari nenek moyang kita dahulu kala.
Dan hasil analisis dengan menggunakan paket program SPPSS menunjukkan bahwa ada enam faktor utama yang mempengaruhi konsumen dalam memilih pasar swalayan yang dikunjunginya dan ada tujuh faktor yang menjadi pertimbangan utama dalam membeli barang di pasar swalayan. Adapun faktor-faktor tersebut adalah faktormutu barang, faktor harga barang, faktor kecepatan pelayanan, faktor kenyamanan berbelanja, faktor keramahan dari pelayan/pramuniaga dan faktor kebersihan tempat. Apabila suatu pasar swalayan mempunyai kelebihan pada faktor-faktor di atas seperti menawankan harga jual relatif murah, pelayanannya memberikan tanggapan yang lebih cepat kepada konsumen, kenyamanan berbelanja yang lebih baik dan menarik, kelengkapan barang-barang yang diperlukan konsumen juga lebih komplit, layanan yang ramah dan kondisi ruangan yang tampak bersih maka konsumen akan memilih dan membeli barang kebutuhannya di pasar swalayan .

Sumber :